Jumat, 24 Februari 2017

Teori perilaku dan organisasi

Edit Posted by with No comments

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada awalnya, istilah sikap di gunakan untuk menunjuk status mental seseorang. Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari individu, selalu di arahkan terhadap suatu hal atau objek tertentu dan sifatnya tertutup. Oleh sebab itu, manifestasi sikap tidak dapat langsung di lihat, namun hanya dapat di tafsirkan dari tingkah laku yang tertutup tersebut. Di samping sikap yang bersifat tertutup, sikap juga bersifat sosial, dalam arti bahwa kita hendaknya dapat beradaptasi dengan orang lain. Sikap menuntun tingkah laku kita sehingga kita akan bertindak sesuai dengan sikap yang kita ekspresikan. Kesadaran individu untuk menentukan tingkah laku nyata dan tingkah laku yang mungkin terjadi itulah yang di namakan sikap.
Individu memiliki sikap terhadap bermacam – macam objek, seperti benda, orang, peristiwa, pemandangan, norma, nilai, lembaga, dan sebagainya. Misalnya, sikap positif seorang pasien terhadap perawat yang memberikan pelayanan keperawatan yang bermutu adalah menaati segala nasihat dari perawat tersebut.  Sifat individu dan sebagian besar masyarakat membenci tindakan kekerasan yang akhir – akhir ini sering terjadi di masyarakat.
Secara nyata, sikap menunjukkan adanya kesesuaian antar reaksi dan stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari – hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap masih merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, bukan pelaksanaan motif tertentu. Dengan kata lain, sikap belum merupakan tindakan atau aktivitas, namun merupakan suatu kecenderungan untuk bertindak terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek tersebut.
Selain sikap, manusia, termasuk diri kita dikaruniai pribadi yang sangat unik, yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Selain itu kita juga dikaruniai kemampuan untuk membangun pribadi sehingga kita dapai mengembangkan diri. Yang perlu kita kembangkan tentu saja adalah pribadi yang menyenangkan baik untuk diri sendiri maupun orang lain
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Sikap
Thurstone memandang sikap sebagai suatu tingkatan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis. Afeksi yang posistif, yaitu yang afeksi senang, sedangkan afeksi negative adalah afeksi yang tidak menyenangkan.
Menurut Stephen dan Timothy, 2008:92 mendefinisikan Sikap (attitude) adalah pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan terhadap objek, individu, atau peristiwa.
Menurut Ramdhani, 2008 sikap adalah cara menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku.
Menurut Muchlas (2005:151) sikap (attitudes) ialah sesuatu yang kompleks, yang dapat didefinisikan sebagai pernyatan-pernyataan evaluatif, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, atau penilaian mengenaiobjek, manusia, atau peristiwa-peristiwa. Sebahagian sikap terbentuk melalui proses belajar sosial yang diperoleh dari orang lain.
Menurut Kotler dan Armstrong (1997, p.157), sikap adalah “Evaluasi, perasaan, dan kecenderungan dari individu terhadap suatu obyek yang relatif konsisten”. Sikap menempatkan orang dalam kerangka pemikiran mengenai menyukai atau tidak menyukai sesuatu, mengenai mendekati atau menjauhinya.
Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seeorang mengenai objek atau situasi yang relative, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar pada kepada orang tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya.
Sikap merupakan  pengendalian perasaan individu, pikiran, dan predisposisi untuk bertindak terhadap beberapa aspek dari lingkungan. Dengan demikian sikap  merupakan faktor yang menentukan perilaku, karena sikap itu berhubungan dengan persepsi, kepribadian, belajar dan motivasi.Sikap adalah kesiap-siagaan mental, yang  diorganisasi lewat pengalaman,  yang mempunyai  pengaruh tertentu kepada tanggapan seseorang terhadap orang, objek  dan  situasi  yang berhubungan  dengannya.

2.2 Komponen Sikap
Saifudin (1995) juga menyatakan bahwa sikap memiliki tiga komponen yang membentuk struktur sikap. Ketiga komponen tersebut saling mendukung dan menunjang, yaitu komponen kognitif, afektif, dan konatif. Berikut akan dijelaskan secara ringkas mengenai ketiga komponen tersebut:
1.    Kognitif atau evaluasi Kognitif atau evaluasi adalah segmen opini atau keyakinan dari sikap, yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap.Komponen kognitif dapat disebut juga dengan komponen persepsual, yang berisi kepercayaan individu. Kepercayaan tersebut berhubungan dengan hal-hal bagaimana individu memersepsikan objek sikap dengan apa yang dilihat dan diketahui  (pengetahuan), pandangan, keyakinan, pikiran, pengalaman pribadi, kebutuhan emosional, dan informasi dari orang lain. Misalnya, individu mengetahui bahwa kesehatan itu sangat berharga karena ia menyadari bahwa apabila sakit, dirinya akan merasakan betapa nikmatnya itu sehat.
2.    Afektif atau perasaan, Perasaan adalah segmen emosional atau perasaaan dari sebuah sikap, yang menimbukan hasil akhir perilaku.Komponen ini merujuk pada dimensi emosional subjektif individu, terhadap objek sikap, baik yang positif (rasa senang) maupun negatif (rasa tidak senang). Reaksi emosional banyak dipengaruhi oleh apa yang kita percayai sebagai suatu yang benar terhadap objek sikap tersebut. Misalnya, individu senang (sikap positif) terhadap profesi keperawatan, berarti ia melukiskan perasaannya terhadap keperawatan; masyarakat umumnya tidak senang (sikap negatif) terhadap tindakan kekerasan, perjudian, pelacuran, dan kejahatan.
3.    Konatif / Perilaku atau tindakan Perilaku atau tindakan adalah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap sesuatu atau seseorang.Komponen konatif disebut juga komponen perilaku, yaitukomponen sikap yang berkaitan dengan predisposisi atau kecenderungan bertindak terhadap objek sikap yang dihadapinya. Misalnya, individu mengetahui bahwa profesi keperawatan adalah profesi yang mulia sehingga banyak lulusan SMA yang masuk Akademi Keperawatan; remaja putri lulusan SMA banyak memilih untuk melanjutkan sekolah ke Akademi Kebidanan karena lulusan Akademi Kebidanan menjanjikan pekerjaan yang jelas.

2.3 Sumber Sikap
Tiga sumber utama sikap (Calhoun dan Accocella, 1990):
1.    Pengalaman Pribadi, sikap dapat merupakan hasil pengalaman yang menyenangkan atau menyakitkan dengan objek sikap.
2.    Pemindahan perasaan yang menyakitkan, pemindahan adalah secara tidak sadar mengalihkan perasaan yang menyakitkan (terutama permusuhan) jauh dari objek sebenarnya pada objek lain yang lebih aman.
3.    Pengaruh sosial, sumber ini dapat dimungkinkan menjadi sumber utama dalam sikap.

2.4 Fungsi Sikap
Menurut Atkinson, Smith, dan Bem (1996),mengungkapkan bahwa sikap memiliki lima fungsi, yaitu instrumental, pertahanan, ego, ekspresi nilai, pengetahuan,dan penyesuaian nilai.
1.    Fungsi Instrumental
Fungsi sikap ini dikaitkan dengan alasan praktis atau manfaat, dan menggambarkan keadaan keinginan. Bahwa untuk mencapai suatu tujuan, diperlukan suatu sarana yang disebut sikap. Apabila objek sikap dapat membantu individu mencapai tujuan, individu akan bersikap positif terhadap objek tersebut atau sebaiknya.
2.    Fungsi Pertahanan Ego
Sikap ini diambil individu dalam rangka melindungi diri dari kecemasan atau ancaman harga dirinya.
3.    Fungsi  Ekspresi
Sikap ini mengekspresikan nilai yang ada dalam diri individu. Sistem nilai yang terdapat pada diri individu dapat dilihat dari sikap yang diambilnya bersangkutan terhadap nilai tertentu.
4.    Fungsi Pengetahuan
Sikap ini membantu individu memahami dunia yang membawa keteraturan terhadap bermacam-macam informasi yang perlu diasimilasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap individu memiliki motif ingin tahu, ingin mengerti, dan pengetahuan.
5.    Fungsi  Penyesuaian Sosial
Sikap ini membantu individu merasa menjadi bagian dari masyarakat. Dalam hal ini sikap  yang diambil individu tersebut akan sesuai dengan lingkungannya.

2.5 Proses Pembentukan Sikap
Sikap dapat terbetuk atau berubah melalui dua macam:
1.    Integrasi
Pembentukan sikap disini terjadi secara bertahap, dimulai dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan satu hal tentu sehingga akhirnya terbentuk sikap menegenal hal tersebut.
2.    Trauma
Trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba, mengejutkan, yang meninggalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan. Pengalaman –pengalaman yang traumatis dapat juga menyebabkan terbentuknya sikap.

2.6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sikap (Azwar:1995;30):
1.    Pengalaman Pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis yang akan membentuk sikap positif dan sikap negatif. Pembentukan tanggapan terhadap obyek merupakan proses kompleks dalam diri individu yang melibatkan individu yang bersangkutan, situasi di mana tanggapan itu terbentuk, dan ciri-ciri obyektif yang dimiliki oleh stimulus. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
2.    Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu di antara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Orang-orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau suami, dan lain-lain.
3.    Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita terutama kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan. Kebudayaan telah menanamkan garis pengarah sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena kebudayaan pula-lah yang memberi corak pengalaman-pengalaman individu-individu yang menjadi anggota kelompok masyarakatnya. Hanya kepribadian individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominansi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual.
4.    Media Massa
Berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Sebagai tugas pokoknya dalam menyampaikan informasi, media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, bila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah sikap. Walaupun pengaruh media massa tidak sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun dalam proses pembentukan dan perubahan sikap, peranan media massa tidak kecil artinya.
5.    Lembaga Pendidikan Dan Lembaga Agama
Kedua lembaga di atas, mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan pusat keagamaan serta ajarannya. Karena konsep moral dan ajaran agama sangat membentuk sistem kepercayaan maka tidak mengherankan kalau konsep tersebut ikut berperan dalam menentukan sikap individu terhadap sesuatu hal.
6.    Pengaruh Faktor Emosional
Terkadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap ini dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang. Akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang dapat bertahan lama.

2.7 Tipe Sikap
Ada 3 (tiga) tipikal sikap seseorang, antara lain: (Ardana, 2009: 22)
1.    Kepuasan kerja, seseorang yang mempunyai tingkat kepuasan kerja yang tinggi akan cenderung menunjukkan sikap positif terhadap pekerjaan, demikian sebaliknya.
2.    Keterlibatan kerja, sampai sejauh mana seseorang memihak pada pekerjaannya, berpartisipasi aktif didalamnya serta menanggapi kinerjanya sangat penting bagi organisasi.
3.    Komitmen pada organisasi, sampai tingkat mana seseorang pegawai memihak pada organisasinya dan bertekad setia didalamnya.

2.8 Mengubah Sikap
1.    Hambatan untuk Mengubah Sikap
Terdapat dua hambatan dasar yang dapat mencegah orang mengubah sikap mereka:
v  Komitment sebelumnya, yang terjadi saat orang membuat komitment pada tindakan tertentu dan tidak ingin berubah.
v  Akibat informasi yang tidak memadai. Kadang-kadang orang tidak melihat alasan untuk mengubah sikap. Pimpinan mereka mungkin tidak menyukai sikap negative rekan kerjanya, tetapi akhirnya senang dengan perilakunya sendiri.
2.    Menyediakan Informasi Baru
Untungnya, ada cara agar hambatan dapat diatasi dan sikap dapat berubah. Salah satunya adalah dengan menyediakan informasi baru. Kadang-kadang informasi akan mengubah keyakinan seseorang, dan selanjutnya mengubah sikapnya.
3.    Penggunaan Rasa Takut
Cara kedua untuk mengubah sikap adalah melalui pemanfaatan rasa takut. Beberapa peneliti menemukan bahwa ketakutan dapat menyebabkan beberapa orang mengubah sikapnya. Akan tetapi, tingkat ketakutan sepertinya penting untuk hasil akhir.


BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Sikap merupakan sebuah pandangan positive ataupun negative terhadap suatu objek yang
sedang Di hadapinya saat itu atau yang telahl alu. Pandangan ini diperoleh dari  hasil belajar atau karena pengaruh interak sisocial sehari-hari yang diikuti dengan perasaan seorang individu. Sikap memilik itiga (3) komponen yaitu: Kognitif atau evaluasi, Afektif atau perasaan, dan Konatif / Perilaku atau tindakan Perilaku. Dapat disimpulkan bahwa, pentingnya peranan sikap yang dimunculkan oleh seorang individu untuk dapat mengaplikasikan sikapnya kedalam bentuk tindakan terhadap suatu objek maupun sebuah peristiwa yang sedang dihadapinya.

3.2  Saran
Dalam kehidupan sehari-hari kita harus Tetap menjaga sikap dan tingkah laku dengan baik, sehingga dapat di terima dalam lingkungan kita dimana berada.


DAFTAR PUSTAKA





Kamis, 20 Juni 2013

Kue Donat Empuk

Edit Posted by with No comments
Kue Dunat merupakan kue yang sangat populer di Indonesia. Baik kaum muda ataupun orang tua menyukai dengan kue Donat. Tak perlu bingung bila bunda mau membuat kue donut yang empuk untuk si buah hati ataupun suami dirumah, bunda tinggal mengikuti resep berikut ini.

Bahan yang Digunakan :
  • 200 gram kentang kukus dan haluskan
  • 500 gram tepung terigu protein tinggi
  • 50 gram gula pasir
  • 11 gram fermipan
  • 1 sdt garam
  • 1 sdm susu bubuk
  • 50 gram margarine
  • 200 ml air es
  • 1 butir telur ayam
Cara Membuat Kue Donut Empuk :
  • Campur terigu, kentang, gula pasir, fermipan, susu bubuk dan garam
  • Aduk bahan tersebut diatas sambil di tuangi air es sedikit demi sedikit hingga rata.
  • Kemudian masukkan telur dan margarine.Uleni adonan sampai kalis.
  • Bulatkan adonan kemudian diamkan (simpan) selama 50 menit sehingga adonan menjadi 2x lebih besar.
  • Ambil adonan dan timbang masing masing seberat 30 gram.
  • Bentuk adonan yang telah ditimbang 30 gram tersebut seperti bola.
  • Setelah itu cetak dengan cetakandonut atau cukup dilubangi bagian tengahnya saja.
  • Diamkan adonan selama 20 menit lagi.
  • Panaskan wajan penggorengan dan goreng sampai matang dan berwarna kecokelatan.
  • Angkat dari wajan dan tunggu donut sampai dingin dan baru bunda bisa menghiasi dengan selera bunda.
Selamat mencoba membuat donat untuk keluarga tercinta dirumah.

BROWNIES KUKUS COKELAT KEJU

Edit Posted by with No comments
Anda pecinta Brownies? Jika ya, maka Anda harus mencoba menu yang satu ini. Teksturnya yang lembut akan memanjakan lidah Anda.


Bahan-bahan/bumbu-bumbu :
60 gram margarin 
50 gram cokelat masak pekat, dipotong-potong 
1/2 sendok cokelat pasta 
5 butir telur 
125 gram gula pasir 
1 1/2 sendok teh emulsifier (sp/tbm)
85 gram tepung terigu protein sedang 
25 gram cokelat bubuk 
1/2 sendok teh baking powder 
1/4 sendok teh garam 
30 gram meises untuk taburan
3 lembar keju lembaran
50 gram buttercream untuk olesan

Bahan Taburan:
25 gram keju cheddar, diparut panjang
25 gram meises 

Cara Pengolahan :
  1.  
    1. Panaskan margarin. Matikan api. Masukkan potongan cokelat masak pekat. Aduk sampai larut. Tambahkan cokelat pasta. Aduk rata. Sisihkan.
    2. Kocok telur, gula pasir, dan emulsifier sampai mengembang. Tambahkan tepung terigu, cokelat bubuk, baking powder, dan garam sambil diayak dan diaduk rata.
    3. Masukkan campuran margarin sedikit-sedikit sambil diaduk perlahan.
    4. Bagi tiga adonan. Satu bagian tuang di loyang 24x10x7cm yang dialas kertas roti tanpa dioles margarin. Kukus 10 menit dengan api sedang.
    5. Tabur meises. Tuang lagi 1/3 adonan. Kukus 10 menit dengan api sedang. Tata keju lembaran. Tutup dengan sisa adonan. Kukus 15 menit sampai matang. Dinginkan.
    6. Oles bagian atas kue tipis-tipis dengan buttercream. Tabur keju cheddar parut dan meises secara selang-seling.
Untuk 12 potong

Brownis kukus basah

Edit Posted by with No comments
Resep berikut ini adalah resep kue basah yaitu cara pembuatan brownis kukus,
salah satu brownis kukus yang populer untuk saat ini adalah brownis kukus
amanda.



Bahan

    * Telur 6 butir
    * Gula 225 gram
    * Pasta Coklat
    * Garam secukupnya
    * Emulsifier 1  sdt teh
    * Terigu 125 gram, ayak, aduk rata dg coklat bubuk
    * Coklat bubuk 50 gram, ayak, aduk rata dg terigu
    * Susu Kental Manis (SKM) 75 ml
    * Minyak  goreng 175 ml
    * Dark Cooking Cokelat 100 gram, lelehkan, campur dg minyak

Cara membuat

   1. Kocok telur gula, emulsifier, garam dan pasta coklat  hingga mengembang dan kaku.
   2. Masukkan campuran tepung terigu dan cokelat bubuk. Aduk perlahan hingga rata.
   3. Masukkan campuran minyak dan coklat yang sudah dicairkan, aduk hingga rata.
   4. Sisihkan sepertiga bagian adonan, beri  susu kental manis, aduk rata.
      Bagi 2 adonan tanpa susu kental manis, bagian I kukus selama 10 menit, tambahkan
      adonan dg SKM selama 10 menit, terakhir masukkan adonan sisa tanpa
      SKM, lanjutkan mengukus selama kira kira 20 menit. Angkat.

Tips pembuatan :

    * Adonan telur, gula dan emulsifier harus dikocok sampai benar benar kaku
    * Kukusan harus benar benar panas saat adonan dimasukkan ke dalam kukusan.
    * Jangan lupa membungkus tutup kukusan dengan serbet bersih supaya air kukusan tidak turun dan membasahi kue yang sedang dikukus
    * Pengukusan menggunakan api sedang, api yang terlalu besar menyebabkan permukaan brownies kukus menjadi bergelombang dan berlubang lubang